Postingan

KRITIK DAN ESAI CERPEN KARYA M. SHOIM ANWAR

Gambar
KRITIK DAN ESAI CERPEN KARYA M. SHOIM ANWAR Sumber gambar https://klipingsastra.com/id/oleh/m-shoim-anwar     M. Shoim Anwar adalah seorang sastrawan sekaligus dosen. M. Shoim Anwar lahir di Desa Sambong Dukuh, Jombang, Jawa Timur. M. Shoim Anwar telah banyak menulis cerpen, novel, esei, dan puisi di berbagai media. Beberapa cerpen beliau yang akan menjadi sumber kritik dan esai yaitu Sorot Mata Syaila, Sepatu Jinjit Aryanti, Bamby dan Perempuan Berselendang Baby Blue, Tahi Lalat, dan Jangan ke Istana Anakku. Menurut KBBI cerita pendek adalah cerita yang isinya kurang dari 10.000 kata dan ceritanya berkonsentrasi pada satu tokoh dalam cerita. Selanjutnya akan dibahas secara ringkas terlebih dahulu isi dari cerpen Sorot Mata Syaila, Sepatu Jinjit Aryanti, Bamby dan Perempuan Berselendang Baby Blue, Tahi Lalat, dan Jangan ke Istana Anakku.           Cerpen Sorot Mata Syaila menceritakan seorang yang biasa dipanggil Matalir waktu kecil bertemu dengan seorang perempuan bernama Syaila di ba

KRITIK DAN ESAI REVISUALISASI VIDEO KLIP “MAMA PAPA LARANG” OLEH MAHASISWA PBSI UNIPA ANGKATAN 2014

Gambar
  KRITIK DAN ESAI REVISUALISASI VIDEO KLIP “MAMA PAPA LARANG” OLEH MAHASISWA PBSI UNIPA ANGKATAN 2014 Sumber https://www.youtube.com/watch?v=i80eN2mQs_w MAMA PAPA LARANG Judika Separuh nafasku Ku hembuskan untuk cintaku Biar rinduku Sampai kepada bidadariku Uu-uu Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang Walau dunia menolak, 'ku tak takut Tetap 'ku katakan 'ku cinta dirimu Ohh Karena kamu Bintang di hatiku Takkan ada yang lain Mampu goyahkan rasa cintaku padamu Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu Biar mamamu tak suka, papamu juga melarang Walau dunia menolak, 'ku tak takut Tetap 'ku katakan 'ku cinta dirimu Sudah jangan kau usik lagi Cinta yang tertanam di hati Akan 'ku bawa sampai mati Kamu segalanya, tak terpisah oleh waktu Biarkan bumi menolak, 'ku tetap cinta kamu Biar mamamu tak

KRITIK DAN ESAI PUISI TAUFIQ ISMAIL

Gambar
  KRITIK DAN ESAI PUISI TAUFIQ ISMAIL Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia I Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga Ke Wisconsin aku dapat beasiswa Sembilan belas lima enam itulah tahunnya Aku gembira jadi anak revolusi Indonesia Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia Terasa hebat merebut merdeka dari Belanda Sahabatku sekelas, Thomas Stone namanya, Whitefish Bay kampung asalnya Kagum dia pada revolusi Indonesia Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya Jelas Bung Tomo sebagai tokoh utama Dan kecil-kecilan aku nara-sumbernya Dadaku busung jadi anak Indonesia Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy Dan mendapat Ph.D. dari Rice University Dia sudah pensiun perwira tinggi dari U.S. Army Dulu dadaku tegap bila aku berdiri Mengapa sering benar aku merunduk kini II Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak Hukum tak tegak, doyong berderak-derak Berjalan aku di Roxas Boulevard, Geylang Road, Lebuh Tun Razak, Berjalan aku di Sixth Avenue, Maydan Tahrir dan Ginza

KRITIK DAN ESAI CERPEN “SETAN BANTENG” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA

Gambar
  KRITIK DAN ESAI CERPEN “SETAN BANTENG” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA Sumber gambar https://lakonhidup.com Cerpen “Setan Banteng” merupakan salah satu karya dari Seno Gumira Ajidarma. Seno Gumira Ajidarma lahir di Boston pada tanggal 19 Juni 1958. Seno Gumira Ajidarma telah banyak menulis cerpen dan esai di berbagai media. Menurut KBBI cerita pendek adalah cerita yang isinya kurang dari 10.000 kata dan ceritanya berkonsentrasi pada satu tokoh dalam cerita. Cerpen “Setan Banteng” memberikan penggambaran tentang pentingnya memberikan arahan atau pembelajaran kepada anak-anak sejak kecil atau sejak tingkat sekolah dasar mengenai sikap atau perilaku agar mereka menjadi seseorang yang tidak berperilaku sembarangan. Misalnya pada kutipan cerpen berikut. “Hooooiii!” Guru itu berteriak dan memperlihatkan sikap marah, “Jangan main-main kalian! Ini berbahaya! Ngawur! Apa tidak ada permainan lain selain bermain dengan setan?”.... Guru, yang tampaknya mengerti belaka permainan semacam ini, mengangka

KRITIK DAN ESAI PUISI "SAJAK PALSU" KARYA AGUS R. SARJONO

Gambar
  KRITIK DAN ESAI PUISI AGUS R. SARJONO Sajak Palsu Selamat pagi pak, selamat pagi bu, ucap anak sekolah Dengan sapaan palsu. Lalu merekapun belajar Sejarah palsu dari buku-buku palsu. Di  akhir sekolah Mereka terperangah melihat hamparan nilai mereka Yang palsu. Karena tak cukup nilai, maka berdatanganlah Mereka ke rumah-rumah bapak dan ibu guru Untuk menyerahkan amplop berisi perhatian Dan rasa hormat palsu. Sambil tersipu palsu Dan membuat tolakan-tolakan palsu, akhirnya pak guru Dan bu guru terima juga amplop itu sambil berjanji palsu Untuk mengubah nilai-nilai palsu dengan Nilai-nilai palsu yang baru. Masa sekolah Demi masa sekolah berlalu, merekapun lahir Sebagai ekonom-ekonom palsu, ahli hukum palsu, Ahli pertanian palsu, insinyur palsu. Sebagian menjadi guru, ilmuwan Atau seniman palsu. Dengan gairah tinggi Mereka  menghambur ke tengah pembangunan palsu Dengan ekonomi palsu sebagai panglima Palsu. Mereka saksikan Ramainya perniagaan palsu

KRITIK DAN ESAI PUISI WIDJI THUKUL

Gambar
  Kritik dan Esai Puisi Widji Thukul https://gasbanter.com PERINGATAN Jika rakyat pergi Ketika penguasa pidato Kita harus hati-hati Barangkali mereka putus asa Kalau rakyat bersembunyi Dan berbisik-bisik Ketika membicarakan masalahnya sendiri Penguasa harus waspada dan belajar mendengar Bila rakyat berani mengeluh Itu artinya sudah gasat Dan bila omongan penguasa Tidak boleh dibantah Kebenaran pasti terancam Apabila usul ditolak tanpa ditimbang Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan Dituduh subversif dan mengganggu keamanan Maka hanya ada satu kata: lawan! Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu Apa guna punya ilmu Kalau hanya untuk mengibuli Apa gunanya banyak baca buku Kalau mulut kau bungkam melulu Di mana-mana moncong senjata Berdiri gagah Kongkalikong Dengan kaum cukong Di desa-desa Rakyat dipaksa Menjual tanah Tapi, tapi, tapi, tapi Dengan harga murah Apa guna banyak baca buku Kalau mulut kau bungkam melulu Kritik dan Esai Puisi “Peringatan” dan “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu”

KRITIK DAN ESAI PUISI "IDUL FITRI" KARYA SUTARDJI CALZOUM BACHRI

Gambar
  Kritik dan Esai Puisi Sutardji Calzoum Bachri   Idul Fitri   Sumber www.pikiranrakyat.com     Lihat Pedang tobat ini menebas-nebas hati Dari masa lampau yang lalai dan sia Telah kulaksanakan puasa ramadhanku, Telah kutegakkan shalat malam Telah kuuntaikan wirid tiap malam dan siang Telah kuhamparkan sajadah Yang tak hanya nuju Ka’bah Tapi ikhlas mencapai hati dan darah Dan di malam-malam Lailatul Qadar akupun menunggu Namun tak bersua Jibril atau malaikat lainnya Maka aku girang-girangkan hatiku Aku bilang: Tardji rindu yang kau wudhukkan setiap malam Belumlah cukup untuk menggerakkan Dia datang Namun si bandel Tardji ini sekali merindu Takkan pernah melupa Takkan kulupa janji-Nya Bagi yang merindu insya Allah kan ada mustajab Cinta Maka walau tak jumpa denganNya Shalat dan zikir yang telah membasuh jiwaku ini Semakin mendekatkan aku padaNya Dan semakin dekat Semakin terasa kesia-siaan pada usia lama yang lalai berlupa O lihat T